Free cookie consent management tool by TermsFeedPeran Sektor Peternakan dalam Upaya Menurunkan Emisi Gas Karbon - Demfarm
logo-demfarm

Peran Sektor Peternakan dalam Upaya Menurunkan Emisi Gas Karbon

·

Emisi gas karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya telah menjadi isu global yang mendesak, karena kontribusinya terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.  Sektor peternakan, khususnya peternakan sapi potong, memiliki dampak signifikan terhadap emisi gas rumah kaca. Namun, melalui sejumlah upaya strategis, sektor ini memiliki potensi untuk berkontribusi dalam upaya menurunkan emisi gas karbon. 

Tiga pendekatan utama yang dapat dilakukan dalam upaya tersebut adalah peningkatan efisiensi budi daya sapi potong, kampanye edukasi kepada peternak, dan peningkatan riset serta inovasi.

1. Peningkatan Efisiensi Sistem Budi Daya Sapi Potong

Peningkatan efisiensi dalam sistem budi daya sapi potong merupakan langkah awal yang penting dalam mengurangi emisi gas karbon. Efisiensi ini dapat dicapai melalui beberapa cara:

  • Manajemen Pakan yang Lebih Baik:

Pemberian pakan yang tepat dan efisien dapat mengurangi emisi metana dari pencernaan ternak. Ransum yang disusun dengan proporsi yang tepat antara serat kasar dan konsentrat dapat membantu mengurangi produksi gas metana.

  • Pengelolaan Limbah

Pengelolaan limbah ternak secara efektif dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Limbah ternak yang terurai di tempat pembuangan akhir menghasilkan gas metana. Dengan mengelola limbah ini dengan benar, emisi dapat ditekan.

  • Penggunaan Teknologi Canggih

Penerapan teknologi canggih seperti pengukuran gas metana secara real-time dan pemantauan kesehatan ternak dapat membantu mengidentifikasi masalah dan mengambil tindakan korektif dengan cepat.

2. Kampanye Edukasi tentang Emisi Gas Rumah Kaca kepada Peternak

Kampanye edukasi adalah langkah penting untuk meningkatkan kesadaran peternak tentang dampak sektor peternakan terhadap perubahan iklim. Kampanye ini harus memberikan informasi yang jelas tentang cara mengurangi emisi gas rumah kaca. Beberapa aspek yang dapat dimasukkan dalam kampanye ini meliputi:

  • Pendidikan tentang Manajemen Ternak yang Berkelanjutan

Peternak perlu diberi informasi tentang praktik-praktik manajemen yang berkelanjutan, seperti pengelolaan pakan yang efisien, pemeliharaan kesehatan ternak, dan pengelolaan limbah yang baik.

  • Promosi Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu, yang melibatkan rotasi tanaman dan ternak, dapat membantu mengurangi tekanan pada lahan dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam.

  • Insentif Ekonomi

Pemberian insentif ekonomi, seperti subsidi untuk teknologi ramah lingkungan, dapat mendorong peternak untuk mengadopsi praktik-praktik yang lebih berkelanjutan.

3. Peningkatan Hasil Riset dan Inovasi dalam Penurunan Emisi

Investasi dalam riset dan inovasi akan memainkan peran penting dalam mengembangkan solusi yang lebih efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan. Beberapa area riset yang dapat dieksplorasi meliputi:

  • Pakan Inovatif

Pengembangan pakan inovatif yang mengurangi produksi gas metana dari pencernaan ternak dapat berkontribusi secara signifikan dalam penurunan emisi.

  • Manajemen Limbah Ternak

Penelitian untuk mengoptimalkan pengelolaan limbah ternak, termasuk teknologi biogas untuk mengolah limbah menjadi sumber energi, dapat mengurangi emisi gas metana dari tempat pembuangan akhir.

  • Kesehatan Ternak

Riset untuk meningkatkan kesehatan ternak dapat mengurangi kebutuhan akan antibiotik, yang dapat menghasilkan gas rumah kaca dalam produksinya.

Pengurangan konsumi daging menjadi dilema dan sulit diterapkan di Indonesia, karena peternakan masih menjadi sumber penghidupan bagi sekelompok masyarakat

Mengurangi konsumsi daging menjadi isu menarik perhatian di seluruh dunia, terutama dalam konteks perubahan iklim dan keberlanjutan. Namun, di Indonesia, upaya untuk mengurangi konsumsi daging menemui dilema yang kompleks, terutama karena peternakan masih menjadi sumber penghidupan bagi sejumlah besar masyarakat. 

Di Indonesia peternakan telah menjadi bagian integral dari kehidupan dan mata pencaharian banyak masyarakat di Indonesia. Lebih dari sekadar penyedia daging, peternakan juga memberikan lapangan kerja, pendapatan, dan keamanan pangan bagi jutaan petani dan peternak. Terutama di daerah pedesaan, peternakan menjadi pilar utama ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi konsumsi daging secara drastis dapat mengancam mata pencaharian dan kesejahteraan mereka.

Selain itu, di Indonesia daging memiliki makna budaya dan tradisi yang dalam. Berbagai upacara adat, perayaan, dan acara sosial sering kali menggunakan hidangan daging sebagai bagian integral. Daging juga sering kali dianggap sebagai tanda kemakmuran dan status sosial. Mengurangi konsumsi daging bisa dianggap sebagai mengubah pola hidup dan mengabaikan warisan budaya yang telah ada selama berabad-abad.

Tak hanya itu, bagi sebagian masyarakat Indonesia, daging masih dianggap sebagai bahan pangan mewah karena harganya yang relatif tinggi. Meskipun upaya untuk mempromosikan konsumsi protein nabati seperti kacang-kacangan dan biji-bijian telah dilakukan, keterjangkauan dan aksesibilitas terhadap sumber protein nabati tersebut juga perlu diperhatikan. Untuk sebagian masyarakat, daging masih menjadi pilihan yang lebih terjangkau dan mudah diakses.

Pengurangan konsumsi daging di Indonesia adalah tantangan yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang sensitif terhadap kebutuhan dan budaya masyarakat. Sementara upaya untuk mengurangi dampak lingkungan harus diutamakan, langkah-langkah tersebut harus diiringi dengan langkah-langkah untuk memastikan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat yang tergantung pada sektor peternakan. Melalui pendekatan yang terencana dan kolaboratif, Indonesia dapat mencapai keseimbangan antara menjaga tradisi dan mengurangi dampak lingkungan yang merugikan.

Penting untuk mencari solusi yang dapat mengatasi kondisi ini, tanpa mengorbankan mata pencaharian dan budaya masyarakat. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan diantaranya : 

  • Meningkatkan pemahaman tentang dampak konsumsi daging terhadap lingkungan dan kesehatan melalui program edukasi dapat membantu mengubah pola pikir masyarakat.
  • Mendorong diversifikasi mata pencaharian di daerah pedesaan, seperti pertanian lain atau pengembangan usaha non-peternakan, dapat membantu mengurangi ketergantungan pada peternakan.
  • Mendorong pengembangan alternatif protein nabati yang terjangkau dan bernutrisi tinggi dapat memberikan opsi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.
  • Pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang mendukung transisi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan, termasuk insentif untuk petani yang ingin beralih ke pertanian berkelanjutan.

Indonesia membutuhkan jalan tengah untuk memastikan sektor peternakan dapat berjalan dengan emisi yang minim.

Sektor peternakan memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, pertumbuhannya juga membawa tantangan serius terkait dampak lingkungan, terutama dalam hal emisi gas rumah kaca. Untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan, Indonesia perlu mengambil pendekatan jalan tengah yang memungkinkan sektor peternakan berjalan dengan emisi yang minim. Inilah mengapa perlunya pertimbangan serius terhadap praktek-praktek berkelanjutan dalam industri peternakan.

Sektor peternakan menyumbang sekitar 14% dari total emisi gas rumah kaca global, yang sebagian besar berasal dari metana yang dihasilkan oleh pencernaan hewan dan pengelolaan limbah hewan. Di Indonesia, sektor peternakan juga merupakan kontributor utama terhadap emisi gas rumah kaca, terutama dalam bentuk metana dan nitrogen dioksida yang dilepaskan oleh hewan ternak.

Pendekatan jalan tengah dalam memastikan sektor peternakan berjalan dengan emisi yang minim melibatkan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan lingkungan. Beberapa langkah yang dapat diambil adalah:

  1. Menerapkan teknologi hijau seperti biodigesters untuk mengolah limbah hewan menjadi biogas, yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Teknologi ini tidak hanya mengurangi emisi metana tetapi juga menghasilkan energi yang berkelanjutan.
  2. Mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan yang memperhatikan pola makan ternak, manajemen limbah, dan peningkatan kualitas pakan. Pemberian pakan yang lebih baik dapat mengurangi emisi metana dari pencernaan hewan.
  3. Mengurangi ketergantungan terhadap produksi daging hewan dan merangsang konsumsi sumber protein nabati. Ini dapat membantu mengurangi tekanan pada sektor peternakan dan mengurangi emisi secara signifikan.
  4. Menerapkan sistem pengelolaan limbah yang efektif dan inovatif. Daur ulang limbah hewan menjadi pupuk organik atau bahan baku lain dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan.
  5. Meningkatkan edukasi dan kesadaran di kalangan peternak, konsumen, dan masyarakat umum tentang dampak lingkungan dari sektor peternakan. Ini akan membantu mendorong penerimaan terhadap praktik-praktik berkelanjutan.

Melalui penerapan jalan tengah tersebut, diyakini dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan, lingkungan akan lebih terjaga dan berkelanjutan. Serta memungkinkan sektor peternakan tetap berkontribusi terhadap perekonomian nasional tanpa mengorbankan lingkungan. (Betty)

0
Artikel Terbaru