Free cookie consent management tool by TermsFeedPeringati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan, Intip Upaya PKT Ubah Lahan Bekas Tambang Jadi Lebih Produktif - Demfarm
logo-demfarm

Peringati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan, Intip Upaya PKT Ubah Lahan Bekas Tambang Jadi Lebih Produktif

·
Cara mengatasi kekeringan lahan
Cara mengatasi kekeringan lahan (Cara mengatasi kekeringan lahan)

Degradasi lahan semakin banyak terjadi di mana-mana. Apa yang dimaksud dengan degradasi lahan? Degradasi lahan merupakan kondisi di mana lahan mengalami penurunan produktivitas, baik bersifat sementara maupun tetap. Lahan terdegradasi disebut juga lahan tidak produktif, lahan kritis, atau lahan tidur yang dibiarkan terlantar tidak tergarap.

Sementara itu, kekeringan adalah suatu kondisi saat ketersediaan air jauh di bawah kebutuhan hidup dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pertanian, hingga lingkungan. Keduanya merupakan fenomena alam yang cukup merugikan bagi keberlangsungan hidup manusia.

Untuk mencegah degradasi lahan dan kekeringan semakin meluas, setiap tanggal 17 Juni diperingati sebagai Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia pertama kali pada tahun 1994 berdasarkan Resolusi Sidang Umum PBB No. A/RES/49/115 sekaligus menjadi salah satu hari besar internasional.

Penyebab Degradasi Lahan

Degradasi lahan dan kekeringan merupakan ancaman nyata yang terjadi di dunia dan mengancam kehidupan manusia. Dilansir dari UNCCD, 23 persen lahan di dunia sudah tidak produktif dan sisanya berubah, serta banyak dimanfaatkan untuk pertanian.

Lalu apa penyebab degradasi lahan dan kekeringan? Berikut ini adalah beberapa penyebab degradasi lahan dan kekeringan.

Penyebab degradasi lahan:

  • Pembersihan lahan, seperti tebang habis dan deforestasi,
  • Hilangnya nutrisi tanah secara permanen akibat praktik pertanian yang kurang baik,
  • Penggembalaan hewan berlebih,
  • Irigasi yang tidak baik dan pengambilan air tanah berlebih,
  • Rebakan kota dan pembangunan usaha komersial,
  • Kontaminasi tanah,
  • Pertambangan,
  • Aktivitas olahraga seperti berkendara off-road,
  • Perluasan lahan yang menabrak habitat hewan liar,
  • Pembajakan tanah berlebihan (erosi mekanis),
  • Pertanian monokultur, dan
  • Pembuangan sampah non-biodegradable seperti plastik.

Penyebab kekeringan:

  • Curah hujan rendah,
  • Global warming,
  • Minim daerah resapan,
  • Letak geografis yang tepat di bawah garis katulistiwa, dan
  • Kerusakan hidrologis.

Di Indonesia yang menjadi juru bicara untuk Konvensi PBB tentang penanggulangan degradasi lahan adalah Kementerian Kehutanan. Karena itulah, Kemenhut berkewajiban menggerakkan kesadaran masyarakat dalam memperbaiki lingkungan dan mencegah degradasi lahan untuk kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. 

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan saat peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, antara lain:

  1. Melakukan reboisasi
  2. Membuat saluran air
  3. Mengubah lahan tidur menjadi aktif
  4. Melakukan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan
  5. Melakukan rehabilitasi saluran irigasi dan konservasi lahan.

Untuk memperingati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, bisa dimulai dari aspek terkecil dulu yaitu diri sendiri dan lingkup keluarga.

Upaya PKT Ubah Lahan Tambang Jadi Lebih Produktif

Degradasi lahan maupun kekeringan yang kerap terjadi di Indonesia menjadi perhatian sejumlah pihak. Salah satunya PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Sebagai bentuk nyata penerapatan Environment, Social, and Governance (ESG), pelopor transformasi hijau industry petrokomia Tanah Air meluncurkan inovasi terbaru bertajuk Community Forest. Program ini bertujuan mengurangi emisi karbon dengan menggandeng TNI untuk melakukan penanaman 10 juta pohon hingga 2023.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi mengatakan PKT akan terus konsisten melakukan inovasi berkelanjutan untuk mencapai target pengurangan emisi karbon lewat beragam program yang mendukung. Berbagai inisiatif dalam koridor ESG diluncurkan, semua bertujuan untuk mewujudkan komitmen perusahaan dalam transformasi hijau. 

“Setelah sebelumnya kami memperbesar bauran energi listrik operasional dari energi baru terbarukan lewat PLTS Atap dan sepeda motor listrik, sekarang yang terbaru adalah lewat program Community Forest ini. Nantinya, program ini diharapkan dapat berkontribusi pada potensi penyerapan emisi karbon sebesar 5.379 ton CO2 per tahun,” ujar Rahmad Pribadi.

Tentang Program Community Forest

Lebih lanjut Rahmad menjelaskan, program Community Forest ini adalah bentuk inovasi berkelanjutan demi mencapai target pengurangan emisi karbon (dekarbonisasi) yang sebelumnya sudah dicanangkan PKT. Dengan harapan, pada tahun 2030 mendatang, PKT bisa mencapai target pengurangan emisi karbon hingga 32,50 persen.

Dalam pelaksanaan program Community Forest ini, PKT mendapat dukungan dari Tentara Nasional Indonesia. Sebagai bentuk dukungan, Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa secara langsung menyediakan lahan untuk penanaman pohon. 

Untuk tahapan awal, PKT menggandeng KOSTRAD untuk melakukan penanaman sebanyak 3 ribu pohon di lahan area Latihan KOSTRAD Cibenda, Sukabumi seluas 10 hektar di tahun 2022 dan akan dilanjutkan hingga 200 hektar dengan total tanaman lebih dari 60 ribu. Berbagai jenis tanaman seperti mangga, nangka, durian, alpukat, sirsak dan beberapa tanaman buah langka seperti matoa, bisbul, menteng dan gandaria akan ditanam di area yang telah disediakan oleh KOSTRAD.

Pangkostrad Letnan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyebut bahwa pihaknya sangat mendukung pelaksanaan program Community Forest yang digagas PKT. 

“Ini adalah salah satu bentuk nyata bahwa kami dari TNI bersama PKT bisa berkontribusi langsung untuk mengurangi emisi karbon yang menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim sekarang ini. Kami dari TNI nantinya akan terus bersinergi bersama PKT untuk menyediakan lahan sebanyak mungkin untuk bisa ditanami pohon. Diawali dari Lapangan Latihan KOSTRAD ini, semoga nantinya bisa bermanfaat tidak hanya untuk TNI tapi juga untuk masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Selain bertujuan untuk penyerapan emisi karbon, Program Community Forest ini juga ditargetkan untuk perlindungan keanekaragaman hayati, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi penanaman dan memberi nilai tambah ekonomi pada lahan yang kurang produktif.

Community Forest Dikembangkan di Berbagai Daerah

Untuk mensukseskan program Community Forest ini, penanaman pohon juga dilakukan di berbagai daerah. Di Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat, PKT Bersama KOSTRAD menanam 3 ribu bibit pohon pada lahan seluas 10 hektar. Kerja sama ini akan terus berlanjut hingga 200 hektar dengan target tanaman lebih dari 60 ribu bibit.

Penanaman pohon juga dilaksanakan di Gorontalo, tepatnya di Kabupaten Pohuwato. Di lokasi ini, PKT menargetkan pengembangan Community Forest seluas 1.840 hektar yang tersebar di tujuh desa untuk ditanami berbagai varietas seperti durian, jambu mete, alpukat, nangka, mangga, sirsak, rambutan, cengkeh, sengon, dan berbagai jenis tanaman langka. Total akan ditanam lebih dari 68 ribu bibit dengan melibatkan 430 petani setempat.

Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel, mengatakan kerja sama program community forest antara Pupuk Kaltim dengan kelompok tani di Pohuwato menjadi salah satu upaya untuk lebih menghijaukan Gorontalo. Rachmat menilai manfaat jangka panjang akan bisa dinikmati masyarakat melalui pemberdayaan yang dilakukan. Dari program ini akan lebih banyak komoditas tanaman yang bisa dihasilkan masyarakat, sehingga makin mendorong peningkatan kesejahteraan.

"Kerja sama ini dilakukan untuk menghijaukan Gorontalo. Untuk itu kami imbau para petani untuk bisa memaksimalkan program, agar ke depan hasilnya pun sesuai harapan," tutur Rachmat. (Tyo)

Topik
Artikel Terbaru